Hasni's Story Galery


Ketika Kursi Itu Kembali
Cerpen Risna Pontianak


Habis sudah ! Akhirnya semua harta benda yang kukumpulkan hasil kerja keras bertahun-tahun telah berpindah tangan. Disita oleh bank ! Dan kesemuanya terjadi hanya karena kecerobohanku yang tidak mengasuransikan produk elektronika terbaru yang kubeli dari Jakarta dan dalam perjalanannya kapal yang mengangkut empat kontainer barang-barangku tenggelam ditelan lautan. Seluruh awak kapal tewas ! Dan sialnya, aku juga harus membayar ganti rugi kepada keluarga mereka. Kapal senilai 800 juta milikku lenyap! Pihak bank tidak berani memberikan pinjaman tambahan karena mereka telah memberikan toleransi ketika aku telah menunggak angsuran selama dua bulan. Dan kini semua semua anggunanku disita. Rumah, mobil, tanah berhektar-hektar dan surat-surat obligasi, habis sudah. Hanya tertinggal beberapa potong baju dan sedikit uang hasil penjualan barang-barang yang tak tersita dan dari tabungan atas nama anakku, Idrus, siswa kelas lima SD.

Kemalanganku tidak berakhir begitu saja. Istriku yang cerewet juga ikut disita. Ya, istriku disita oleh sifat egois dan materialistisnya, ketika aku berada diambang kehancuran. Ia telah buru-buru meninggalkanku dan Idrus sambil membawa segala sesuatu yang bisa dibawanya. Kebetulan ada beberapa rumah dan tanah yang kubeli atas namanya. Namun sedikitpun tidak disisakannya untukku. Kawan-kawan yang dulu sering tertawa bersamaku terlalu pelit, bahkan untuk hanya membagi setetes air mata pun! Kemalangan beruntun seakan betah bersemayam di kehidupanku.

Sebulan kemudian, aku mengontrak rumah di pinggir kota. Sebuah komplek perumahan sangat sederhana. Aku tinggal bersama Idrus. Ia masih harus bersekolah agar kehidupannya lebih baik. Untuk kebutuhan kami sehari-hari aku bekerja sebagai buruh tukang yang kerja borongan di sebuah perusahaan kontraktor milik kawanku dulu, hanya saja ia tidak tahu kalau aku bekerja di sana. Sepulang sekolah Idrus berjualan es lilin milik tetangga sebelah. Hasilnya lumayan juga buat menambah sayur mayur kami. Dari rumah yang disita itu aku membawa satu barang kesayanganku ke rumah baru kami. Sebuah kursi malas.

Lingkungan tempat kami tinggal sangat ramah. Suatu keramahan yang lahir dari ketulusan. Keramahan yang selama ini hanya sebatas impianku saja, karena aku tahu persis bahwa kebaikan dari semua yang mengaku sebagai sobat kentalku adalah bungkus dari kepentingan mereka.

Kerja keras ! Hidup kami penuh kerja keras. Dan pada malam itu ketika kami, aku dan Idrus, sedang di ruang tengah, aku di kursi malasku dan Idrus dibawah tiarap sedang mengerjakan PR-nya, “besok kerja borongan Bapak selesai, kita terpaksa berhemat lebih ketat lagi, karena proyek selanjutnya baru keluar Surat Perintah Kerja-nya dua minggu lagi. Besok kita makan cukup dengan nasi campur garam dan minyak goreng ditambah kerupuk ya ?”

“Iya Pak, Idrus sih makan apapun oke, asal..asal jangan dicampur batu..ha...ha”, Idrus menjawab sambil mengajakku bercanda.

Aku tersenyum melihatnya, menahan geli di dada. Namun juga ada gemuruh di situ. Gemuruh kebahagiaan yang menyejukkan dan menenangkan. Alhamdulillah. Ya Allah, telah kau ingatkan lagi kepadaku nikmat besar dari-Mu yang hampir terlupakan. Anak yang soleh! Idrus jugalah yang telah membuatku sadar dari keasyikanku untuk merenungi nasib. Kebiasaannya untuk mengaji selepas solat maghrib, melantunkan bacaan sholat dengan keras di waktu subuh, tutur katanya yang halus dan santun, semangatnya untuk berada diterik matahari sambil menenteng termos es. Subhanallah, luar biasa! Dia lebih tabah dariku! terima kasih, Id. Aku akan menjagamu sebagi anugrah dan amanah.

Sambil menunggu panggilan kerja kembali dari mandor, berbekalkan kertas dan bolpoint aku mencoba menulis beberapa cerpen, sementara itu Idrus masih tetap berjualan es. Dua, tiga cerpen telah berhasil kubuat, hati kecilku cuma berharap, semoga dimuat ! Honornya nanti bisa kugunakan untuk membelikan Idrus sepatu baru.

Belum lagi sampai dua minggu aku kembali dipanggil kerja. Kekuatan lobi bos kami telah mampu mempercepat proses keluarnya Surat Perintah Kerja tersebut. Dan sudah tentu: Uang! Aku akan kembali mendapatkan uang. Bisa kubuang sementara kerisauanku. Alhamdulillah. Ya Allah, semoga rizki yang Kau berikan padaku dapat memberikan menfaat dalam kehidupan kami.

Pada hari pertama kami bekerja, disuatu lokasi pusat kota yang rencananya akan dibangun sebuah Mall. Pimpinan kami turun langsung ke lapangan untuk menyemangati pekerjanya. Kami dikumpulkan dan dengan gagah ia berdiri di depan kami. “Saudara – saudara, hari ini kita akan memulai pekerjaan besar. Saya selaku pimpinan perusahaan berharap bahwa saudara-saudara akan bekerja dengan giat dan penuh semangat. Bla…Bla...Bla. Selamat bekerja !

Tepuk tangan riuh bergema. Semua pekerja bangga dengan kepemimpinannya. Aku tersenyum kecil. Aku tahu siapa dia, Penipu besar ! Aku berjalan ke barak dan mempersiapkan peralatanku. Ketika aku keluar dari barak dengan segala kelengkapan dan kesiapan bekerja. Firman, pimpinan kami yang tadi berpidato di depan ada di hadapanku, memandangku dengan mata melotot pula.

“Bukankah kau Randy”, Firman bertanya padaku
“Iya Man, aku Randy, memangnya kenapa?” Aku menjawab agak sedikit ketus. Aku tahu betul siapa dia. Andaikan dia bukan pimpinan tempat aku bekerja pasti sudah aku hantam dia!!

“Ha…ha…ha. Akhirnya ketemu juga dengan pengusaha malang ini, So.. sekarang kau menjadi buruhku heehee. Pengusaha angkuh itu kini menjadi buruhku. Puas. Puas aku melihatnya..dan kau tahu istrimu? Sekarang ia menjadi wanita simpananku, boleh juga servisnya.. Ha ha ha.” Ejekan yang diberikannya kepadaku sangat luar biasa pedihnya. Hinaan itu menghunjam dahsyat dan dalam hingga ke dasar hati, memporak-porandakan kesabaran dan qana’ah yang telah aku bina selama ini.

“BBUUKKH”..”PPAAKKH”, satu dua pukulanku mendarat di wajah dan tubuhnya. Firman sempoyongan, aku terus berusaha mengejarnya, tapi beberapa orang segera meregangku bahkan empat orang pengawalnya langsung menghajarku. Namun pukulan mereka tak terasa lagi olehku. Rasa sakit pukulan mereka kalah! kalah oleh rasa puasku yang telah berhasil menghajar Firman dan juga kalah. Kalah oleh kepedihan hati karena hinaannya.

“Bangsat kau, Ndy. mulai detik ini juga keluar kau dari lokasi ini!! jangan pernah kau tampakkan wajah hinamu di depanku !”, Firman mendengus marah dan berlalu.

Tinggallah aku sendiri. Kawan-kawan kerjaku pun terlalu takut untuk memberikan pertolongan. Aku maklum. Perut! Perut mampu merubah perilaku dan keberanian setiap orang. Dengan langkah gontai aku pulang ke rumah. Hatiku hanya bisa menjerit. Kenapa harus kujalani kehidupan yang sedemikian beratnya ?!

Aku telah sampai di rumah. Di pintu masuk kulihat sepatu usang Idrus. Kenapa ia tidak ke sekolah? apakah ia membolos, sakit atau memang dipulangkan lebih awal? Aku tak peduli, aku hanya ingin beristirahat dikursi malasku. Tanpa mengucapkan salam lagi aku membuka pintu depan dan kudapati.Idrus sedang asyik bergoyang di kursi malasku. Ia terkejut melihat pintu yang mendadak terbuka. Sesegera mungkin ia bangkit dan dalam ketergopohannya.

“PPRRRAAAAKKK”. Kursi malas itu patah! Kursi malas kesayanganku patah. Hatiku yang panas semakin membara. Sekeras mungkin kupekik namanya ”IIIDDRRUUUUUUSS. Apa yang kau lakukan dengan kursiku hhaah !?!”

“Iidd..tttiii..ttiiiddakk sengaja, Pppaakk”, Idrus menjawab tergagap. Wajahnya pucat. Namun aku kembali tak peduli dan “PPLLAAAKKKK”. Satu tamparan kerasku menghantam pipinya. Idrus terhuyung dan jatuh. Belum lagi ia merasakan asin darah yang mengucur dari sela bibirnya aku menyambung lagi dengan satu tendangan sambil membentak.

“BBUUKKKHH”. “Pergi kau anak jahanam. Pergi kau sana!! jangan lagi kau injakkan kakimu ke rumahku. PEERRGGIIIII !!!” kutarik kerah baju Idrus, kuseret dan kulemparkan ke luar rumah. Lalu kututup dan kukunci pintu dari dalam. Aku tak mau tahu Idrus sedang apa diluar. Aku larut, larut dalam keasyikanku menendang-nendang kursi malasku itu. Mencoba menendang hidup burukku. Mencoba membuang jauh kekesalanku. Dan aku terbaring. Gelap. Dan aku tertidur lelap.

“ALLAHU AKBAR, ALLAAAHU AKBAR”, Adzan maghrib !! Suara adzan itu membangunkanku sekejap namun aku terus tidur dan tidur.

“Tok tok. Selamat pagi. Pak Randy ada?”

Sebuah suara keras membangunkanku. Kulihat jam dinding. Jam 10.30 pagi! Gila aku tertidur terlalu lama. Aku bangkit dan membuka pintu. Kudapati Pak Pos yang sedang memegang lembaran kertas. Dengan ramah ia berkata kepadaku “Maaf Pak mengganggu, ini ada wesel dan surat untuk Pak Randy.” Ia menyerahkan lembaran kertas yang tadi dipegangnya. Kuterima sambil kuucapkan terima kasih. Ia pergi lagi menunaikan tugasnya. Aku masuk, menutup pintu sambil membaca kertas-kertas itu. Perasaanku yang tadi kusut berubah drastis menjadi penuh dengan kesenangan. Dengan gembira aku berteriak sambil menuju kamar.

“Id…Id. Cerpen bapak dimuat, Id. Bapak dapat honornya. Besok kita ke pasar. Kita pensiunkan sepatu usangmu. Ha ha. Id, Id. Tak kudapati Idrus di kamar. MasyaAllah, aku ingat sekarang. Semalam. Semalam Id. Ya Allah apa yang telah aku lakukan ?”

“Iiiiddd… Iiiidd” Aku menghambur keluar. Namun tak kudapati juga ia di sana. Hanya orang-orang lewat yang memandangku penuh keheranan. Aku jatuh terduduk. Bibirku hanya mendesis tipis ”Dimana kau?”

Dua minggu setelah kepergian Id. Aku kembali tersandar. Kemana lagi harus kucari anakku itu? Seluruh sudut kota dan kampung telah aku jelajahi. Semua teman-temannya telah aku datangi namun yang kudapati hanyalah cerita-cerita yang menyimpan begitu banyak misteri. Tak satupun dari mereka tahu persis keberadaan Id. Aku berjalan tertatih menuju kamar. Kupandangi tumpukan kertas cerpenku yang dimuat. Kuambil dan kubaca lagi. Sebuah cerita tentang anak soleh yang memberikan penyadaran secara tak langsung kepada orang tuanya yang tinggal sendiri lagi. Ayahnya. Lewat sikap dan perilaku. Ya! itu adalah cerita tentang Id. Cerita tentang anak kesayanganku dan kini dua minggu sudah aku kehilangannya. Kembalilah, Id. Kembalilah, nak. Aku salah. Aku mengaku salah. Harusnya tak kutimpakan kekesalanku padamu. Tak terasa air mataku mengalir. Aku Cengeng! Aku sadar bahwa Id-lah yang mampu membuatku tegar!!

Aku tak ingin pasrah dan berdiam diri. Biar bagaimanapun aku harus terus berikhtiar. Itulah yang selalu dikatakan Id padaku. Tapi kemana. Kemana lagi aku mencarinya. Selama dua minggu, dari pagi menjelang hingga matahari terbenam aku mencarimu. Pulang ke rumah kemudian malamnya kulanjutkan lagi.

Tak terasa Maghrib telah tiba. Aku mandi dan mempersiapkan diri untuk sholat maghrib, suatu aktifitas rutinku yang pernah kulupakan disaat aku senang dulu!

“Allahu Akbar.” Aku bertakbir dan memulai sholat.
“Assalamualaikum Warahmatullahi. Assalamualaikum Warahamatullahi”

Setelah dzikir, aku mengangkat kedua tanganku dan berdoa “Ya Allah Tuhan pemilik segala sesuatu yang ada di semesta ini..Memang belum banyak nikmat dan titipan kepunyaan-Mu yang kau ambil kembali dariku. Namun bila boleh hamba meminta maka kembalikanlah amanah yang dulu pernah Kau percayakan padaku. Karena cahayanya telah mampu menerangi jalanku dan mengantarkanku pada Hidayah-Mu. Ya Allah, hanya kepadamulah aku menyembah dan hanya kepada-Mu jualah hamba meminta pertolongan. Amiin.”
Doaku usai. Dan bersamaan dengan selesainya doaku.

“Assalamualaikum”.

Sebuah suara terdengar dari pintu depan. Suara itu terdengar sangat-sangat akrab di telingaku. Suara yang..selalu kurindukan. Mungkinkah? Aku menghambur keluar, masih dengan berkain sarung dan berkopiah aku membuka pintu dan kulihat. Alhamdulillah Ya Allah. Ia telah kembali. Id telah pulang ke rumah. Segera aku memeluknya. Air mataku tak tertahankan lagi. Kupandangi wajahnya yang sedikit cekung dengan teredak ia berusah berkata padaku.

“Pak, Pak. Id mmmaauuu…”
“Jangan pergi lagi Id. Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan Bapak sendiri. Bapak minta maaf, Id. Maafkan Bapak.”

Kuajak ia masuk ke dalam rumah, kurasakan badannya masih bergetar..Mungkinkah ia masih takut padaku? Tiba-tiba ia menahan badannya. Berhenti dari ajakanku. Aku kalut dan bertanya ”Kenapa, Id? Kenapa.??”

Id hanya tertunduk, kemudian balik ia yang menuntunku menuju pintu depan. Aku mengikutinya.. dan ketika kami sampai di pintu depan. “Id kerja, Pak, dan ini…Ini, Pak. Ini hasil kerja, Id”

Aku melihat keluar. Aku terkejut. Sungguh mati aku terkejut. Karena di luar kudapati Sebuah kursi malas!



< Back >