Hasni's Story Galery


Perjuangan Rizal
Cerpen R. Frindos

Defrizal Bahar berjuang sangat keras, saya tahu benar itu. Semangatnya dalam berjuang amatlah nyata. Bacalah sorot matanya ketika berbicara, begitu banyak tanda seru di sana, bersatu-pagut dengan suaranya yang cenderung keras untuk telinga saya pada mulanya – pada mula kenal dengannya. Lalu, tangannya yang selalu bergerak-gerak kaku diikuti liukan badannya yang agak kerempeng. Sementara keningnya dikerut-kerutkan supaya terasa keseriusan yang lebih pekat. Asap tipis selalu meluncur-terbang dari mulutnya begitu beberapa patah kalimat terhambur, padahal Bandung hanya menggemetarkan tubuh di pagi hari saja.

Saya akui kalau Rizal – begitu kami memanggilnya – pintar berbicara, setidak-tidaknya jika dibandingkan dengan saya. Kalimat-kalimat yang disampaikan tersusun rapi dari kata-kata yang paling mengena maknanya. Saya rasa kosa kata Bahasa Indonesianya tiga kali lipat lebih banyak dan lebih baik dari yang saya punyai. Pula, ia paling pandai menggunakan analogi dalam mengutarakan pendapat dan menghamparkan permasalahan. Walau ia menolak kalau saya katakan sebagai pengagum Bung Karno, yang kata orang-orang lama sangat pandai berbicara dan terutama berpidato. Ia, katanya, lebih mengagumi Sutan Sjahrir.

Yang jelas ia sangat gemar membaca, apa saja dibacanya. Entah majalah, surat kabar, buku, fotokopian, bahkan – sungguh – pembungkus celana kolor (kalau beli celana kolor di Pasar Simpang Dago pagi-pagi pasti dibungkus dengan koran bekas, biasanya “Gala“ yang banyak memuat berita pemerkosaan). Topik yang disenanginya adalah berita-berita tentang kemasyarakatan dan kerakyatan (begitu dia mengistilahkan). Barangkali sesuai dengan latar belakangnya yang tidak terlalu menggembirakan.
Tetapi dia berjuang sangat keras. Tidaklah salah, oleh karena itu, ia diterima di ITB. Bagaimanapun orang bilang, dulu saya hampir terkencing-kencing ketika diberitahu diterima di ITB, begitu derasnya arus kegembiraan saya meluap. Entah bagaimana dia.

Ia, entah dengan pertimbangan apa, memilih jurusan Teknik Elektro. Meski tak nampak secuilpun oleh saya minatnya pada bidang tersebut kecuali kalau hendak ujian barulah ia tunggang-tunggit kelabakan mencari bahan kuliah. Membetulkan sekering putus saja bingung dia, tak tentu mana yang akan dipegangnya, bagaimana pula kalau saya minta dia membetulkan komputer.

Ia mulai menyakini kalau bidang teknik bukanlah jalan hidupnya ketika pertama kali melakukan praktikum di laboratorium. Di sana, di dinding laboratorium, terpampang tulisan – atau lebih tepat peringatan: ‘Sedikit Bicara Banyak Kerja !’ Dia protes keras dan merasa terpojok, padahal tak ada yang bermaksud memojokkannnya.

“Kita selama ini selalu beranggapan, dan memang kita diindoktrinasi seperti itu, bahwa banyak berbicara merupakan hal yang sia-sia, bahwa banyak berbicara merupakan dalih atas ketidakmampuan, kilah atas kebersalahan…Tong kosong nyaring bunyinya! Diam itu emas! Kata guru-guru semenjak dari kelas 1 SD. Padahal tidak semua yang berbunyi nyaring itu adalah tong kosong, bisa saja tong dari bahan yang sedemikian rupa, dengan isi yang sedemikian rupa. Padahal tidak selamanya diam itu emas, diam bisa juga tai, karena kita hanya diam ketika dinjak-injak bahkan ketika diludahi, diam bisa juga pandir, ongok! Padahal kalau Bung Karno tak banyak bicara, kalau Bung Hatta diam-diam saja, kalau juga Sutan Sjahrir cuma manggut-manggut kita tak akan merdeka. Kita memang hobi untuk memanfaatkan peribahasa untuk tujuan masing-masing. Seperti kita doyan memanfaatkan budaya, ideologi, konstitusi, dan entah apa lagi untuk kepentingan masing-masing. Kasihan peribahasa, kasihan Pancasila, kasihan UUD 45…,” nampaknya dia tersinggung dan seperti biasa bicaranya merembet kemana-mana.Terus terang dia memang banyak bicara.

“Tapi ‘zal, kalau kau masuk laboratorium yang harus kau lakukan adalah melakukan percobaan, memakai alat-alat dan zat-zat yang sangat sensitif. Jadi kau harus bekerja dengan baik dan cepat. Dan saya rasa di laboratorium kita cukup berbicara sekadarnya, mungkin waktu menyiapkan laporan kita boleh banyak berbicara dalam menganalisanya, meskipun tidak usah terlalu banyak. Karena dalam ilmu sains, data dan formula dibantu grafik sudah cukup menerangkan semuanya,” saya coba meluruskan persepsinya. Dia tidak membantah, karena memang tidak ada yang salah dengan tulisan peringatan tersebut. Dia hanya mengatakan, pada akhirnya, kalau dia berada bukan dalam komunitasnya.

Namun saya akui Rizal berjuang lebih keras dari saya. Orangtuanya penjaga sekolah sebuah SD, yang hingga sekarang masih honorer. Entah benar atau tidak, konon sangat kecil kemungkinannya bagi orangtuanya untuk bisa diangkat menjadi pengawai negeri karena – konon – dulu waktu mengisi formulir apa begitu, selalu menuliskan Pancasila tidak diawali dengan huruf besar. Konon.

Desanya merupakan sebuah kampung nelayan kecil di daerah pesisir sebelah barat Sumatra. Amatlah sulit kehidupan di sana, begitu Rizal sering bercerita. Jauh dari pusat kebudayaan dulunya sehingga terpinggir dalam masalah adat, budaya dan dianggap kurang halus dan benar dalam bertatakrama. Akses yang tersendat ke sentra pemerintahan administratif modern untuk beberapa lama membuat sedikit tersisih dalam pergulatan dan gegap gempita aktivitas sosial, ekonomi dan politik orang-orang bagian utara. Kabar tentang dukun-dukun dengan ilmu magisnya terus didengung-dengungkan orang-orang di sebelah atas, cara tersendiri untuk menyorakkan ketertinggalan yang dialami. Tingkat pendidikan yang masih merayap-rayap diimbangi dengan mantap oleh prasarana informasi yang minim. Pendidikan dan akses informasi inilah yang nampaknya menjadi perhatian utama Rizal mengenai daerah kelahirannya, dan membaca adalah solusi yang paling mangkus menurutnya.

“Mengapa membaca?”

“Ya…karena membaca bikin kita jadi banyak tahu,” saya mencoba mengisi selang waktu.

“Membaca tak hanya membuka mata, membaca akan membuka telinga, membuka hati, membuka pikiran. Dengan mata, telinga, hati dan pikiran yang terbuka segala persoalan, Insya Allah, akan memperoleh jalan menuju peyelesaian.”

Ya, saya pernah mendengar atau membaca kalimat-kalimat seperti itu. Entah dimana. Tapi yang jelas tak perlu saya sampaikan padanya, bisa mengundang perdebatan pula nanti.

“Tapi bukankah sebelum membaca menjadi suatu kebutuhan, seseorang perlu bisa membaca dulu. Lalu apa yang harus dibaca? Sementara untuk makan pun harus dihitung-hitung, diagak-agak. Sementara tempat tinggal pun jauh dari memadai, sementara pakaian yang hendak dipakai pun harus menunggu kering di jemuran, sementara tiap hari ada saja yang sakit, ada saja yang lahir, ada saja yang hendak kawin, ada saja sawah yang dihoyak-koyak tikus, ada saja biduk yang dibadai, ada saja cengkeh yang mati pucuk, ada saja babi yang tega membongkar ladang-ladang…Kemudian kau minta mereka semua membaca, membeli buku, koran, majalah seperti yang kau lakukan?” dia memiringkan kepala ke kanan, sedikit saja, sambil menatap mata saya. “Kamu ingin mengatakan itu ‘kan?”

Demi tuhan saya memang akan menyampaikan hal tersebut kepadanya, tentu dengan kalimat dan lagu saya sendiri.

“Saya tidak meminta orang-orang kampung untuk berhenti ke sawah, ke laut, ke ladang. Saya tidak meminta mereka untuk tidak kawin, untuk tidak punya anak, untuk membiarkan orang sakit tidak diobati. Tentu saja saya tidak tega membiarkan rumah mereka reot terus-terusan, membiarkan mereka gali lubang tutup lubang untuk berak. Lalu meminta mereka membaca koran, majalah, buku, kemudian berkumpul berdiskusi tentang demokrasi, tentang pemilu, tentang kebijakan moneter. Tidak! Janganlah kita terbiasa mengekstrim-ekstrimkan suatu saran hingga kedengarannya mengerikan, hingga kehilangan substansi saran itu sendiri,” dia mengabsorpsi energi suara dari udara sekitarnya dengan satu hentakan dahsyat.

“Tidakkah kita bisa membantu mereka untuk secara bertahap menyediakan waktu untuk membaca, perlahan-lahan. Sehingga sawah tetap terolah, ladang tetap tersiang, biduk tetap melaut. Tidakkah kita bisa membantu mereka memberikan bahan bacaan apa saja untuk dibaca, sehingga yang sakit tetap bisa diobati, yang reot tetap terusahakan untuk di perbaiki. Pada mulanya mungkin mereka hanya mau membaca komik, berita film dan artis-artisnya. Seperti saya dahulu. Tapi lama-lama, asalkan dibimbing, sebagian dari mereka akan mau, selanjutnya butuh, bacaan yang berguna bagi mereka. Sehingga mata, hati, dan pikiran mereka terbuka lebar, bahwa banyak yang harus dibenahi di seputar mereka, bahwa banyak hak-hak dan kewajiban mereka belum terlaksana optimal. Bahwa anak-anak disekolahkan tidak hanya untuk mencari uang kelak, bahwa sawah mereka bisa menghasilkan lebih banyak, bahwa banyak cara untuk menghalangi babi bermain-main di ladang. Bahwa memang, kalau bisa, lebih baik punya sumur alih-alih mengambil air ke sungai. Bahwa ternyata seharusnya mereka sudah punya sembilan MCK kalau kepala desa tidak beli Kijang untuk keperluan dagangnya sendiri. Bahwa ternyata seharusnya rumah mereka sudah tidak reot lagi kalau tidak harus menyumbang untuk bangun SMP karena bapak camat menyekolahkan anaknya ke Jakarta. Bahwa ternyata juga seharusnya mereka tidak usah mengeluarkan uang banyak untuk membayar kuda beban kalau jalan dari mudik ke pasar dibangun bukannya rumah dinas (baru) bupati, bahwa…”

Kalau sudah begini panjang saatnya saya tidur. Tidak ada nikmat yang lebih di Bandung yang dingin ini selain tidur bergelung di malam hari berlapiskan kain sarung, sambil mendengarkan pidato Rizal ditingkahi rintihan kecapi yang serak-serak dari radio AM.
Walau bagaimanapun, sebetulnya saya tidak yakin semua yang diomongkannya bisa dilaksanakan dengan gampang. Dan dia telah membuktikannya sendiri.

******

Pada awalnya, saya heran melihat Rizal sering membawa setumpuk buku dan majalah, ada yang baru dan yang bekas ada pula. Padahal saya tahu uangnya pas-pasan hasil mengajar privat matematika dan fisika serta bea siswa Supersemar yang tiga puluh lima ribu sebulan itu. (Kami, mahasiswa-mahasiswa yang tidak tahu diri ini, suka mengatakan bahwa memperoleh beasiswa Supersemar merupakan suatu kesialan. Selain harus banyak isi ini itu, tanda tangan ini itu, serta harus datang kalau ada acara ini itu, beasiswa ini paling kecil jumlahnya dan otomatis akan menghilangkan kesempatan untuk dapat beasiswa yang lain). Rizal menjelaskan buku-buku dan majalah-majalah itu diperolehnya dari orang-orang yang berhasil dibujuknya untuk menyumbang, selain sebagian dibelinya sendiri di pasar loak Cikapundung. Semuanya akan dikirimkan pulang lewat bis. Di kampungnya dan di kampung tetangga sudah ada kawan-kawan yang akan mengelola perpustakaan desa. Terharu saya sungguh mati. Petang itu saya batalkan niat untuk ganti cartridge printer, saya sumbangkan tiga puluh lima ribu rupiah padanya. Meski awalnya dia bersikukuh menolak, akhirnya dia terima juga sumbangan saya tersebut.

Namun, ya itu, tidak semudah yang diangankan. Berhari-hari dia murung, jarang kuliah, hampir tak pernah makan ke warung si mbok lagi, cuma menelan indomi saja. Bahkan Nenden pun, si geulis anak gang dua, kalau lewat tak pernah digoda lagi. Saya rasa Nenden kecewa berat. Tapi yang jelas Rizal tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kegagalannya. Kiriman buku-buku dan majalah-majalah itu tak pernah sampai ke kampungnya. Itulah yang tak bisa saya mengerti, ketika dikatakannya kiriman tersebut disetop Pak Bupati di kabupaten. Katanya kiriman tersebut diambil temannya yang juga teman anak Pak Bupati, yang kemudian selanjutnya Pak Bupati diketahui melarang untuk meneruskan kiriman tersebut ke kampungnya.

Bukannya Pak Bupati tidak setuju dengan niat Rizal dan kawan-kawan, hanya saja beliau khawatir aktivitas mereka ini tidak sinkron dengan program kelompencapir dan program pemda lainnya, sehingga tidak satu tujuan pun nantinya yang akan tercapai. Lagi pula selama ini masing-masing desa (sebetulnya lebih tepat masing-masing kepala desa) telah dikirimi KMD (Koran Masuk Desa). Pun, sudah ada TV umum, lengkap dengan acara ‘dari desa ke desa’, ‘sambung rasa’, ‘laporan pembangunan’, dan lain sebagainya.

Tapi yang membikin hatinya lebih galau adalah suara-suara dari kampung dan kabupatennya: ‘mentang-mentang sekolah di Jakarta (sebetulnya di Bandung) sudah merasa pintar saja, sudah mau mengajari orang-orang se kampung se dua-kampung, sudah mau melangkahi orang-orang se kabupaten, dipikirnya dia saja yang sekolah, dipikirnya kalau orang tidak sekolah itu pasti bodoh, dipikirnya orang kampung bisa saja diatur-atur, atau barangkali dia sudah terpengaruh pula oleh orang-orang yang suka melawan pemerintah, dan sekarang mau mempengaruhi orang-orang di sini, … makan sekolah kau itu!’

Tak terpikirkan semua itu mulanya oleh Rizal. Diremasnya sebungkus indomi dicemplungkannya ke dalam air menggelegak. Remuk seremuk-remuknya semangatnya, pecah berderai-derai cita-citanya.

Tak kurang usaha saya membesarkan hatinya, namun sekarang dia lebih banyak bermain gitar. Tidak nyaman benar di telinga. Ingin sekali saya katakan padanya betapa kagumnya saya atas pendirian dan perjuangannya. Sesungguhnya dia itulah mutiara dalam luluk, cahaya dalam kabut, parfum dalam kentut bagi orang-orang kampungnya. Sesungguhnya niat tulusnya lebih dari segala-galanya. Sesungguhnya juga masih panjang jalan terbentang dan masih luas lahan terkembang untuk berbuat sama bagi sesama. Memang, akhirnya sisa-sisa buku dan majalah yang belum sempat terkirim itu di berikannya ke DKM, seperti yang sudah-sudah.

******

PETANG itu Simpang Dago ramai seperti biasanya. Mahasiswa-mahasiswa berjalan mondar mandir seperti biasanya di pinggir jalan menyandang ransel Alpina, menenteng tabung gambar. Angkot-angkot seperti biasanya berseliweran, sebagian lagi ngetem : Dago a’! Kalapa ‘téh! Riung! ‘Caheum! ’Royom! Lurus! Lewat Unpad! Seperti biasanya mahasiswi-mahasiswi ngantri di salon ‘Memori’, wartel di sebelahnya dikerubuti mahasiswa yang beli perangko, kirim surat, kirim kartu ulang tahun, kirim undian, atau seperti biasanya mengisi daftar antrian buat interlokal nanti malam. Toko ‘Bahagia’ di seberang jalan sedari pagi tak henti-hentinya dikucuri uang, seperti biasanya. Penjual pecel lele, sate, soto, nasi padang, nasi timbel, nasi goreng, tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng, pisang bakar, roti bakar, batagor, martabak, beramai-ramai mengangkat tenda mendorong gerobak, bersiap-siap menyongsong rezeki malam nanti. Seperti biasanya.
Yang tak biasanya, saya bertemu Pak Yunus, begitu namanya. Beliau duduk di depan saya ketika saya baru memulai suap pertama di ‘Pondok Kapau’. Kecewa sungguh mati saya. Mulanya saya prediksikan dua cewek yang baru muncul di gerbang rumah makan itu – yang sepertinya anak Unpad – yang akan mengisi kursi tersebut. Tetapi kekecewaan saya terlupakan ketika beliau mengajak ngobrol dengan logat Padang yang, alamak, pekatnya. Nampaknya beliau gampang akrab, atau mungkin sok akrab, sehingga cerita kami pun menggelinding ke sana bergulir ke mari, menghantam sana menubruk sini.

“Sudah pernah main ke Padang, dik?”

“Belum tuh, pak.”

“Bengkulu ke Padang ‘kan dekat. Cobalah main-main ke Bukittinggi, banyak nan bisa diliat di situ ‘tu, ada Ngarai Sianok, Jam Gadang, Lubang Japang. Aa… kalau ndak, langsung ke Maninjau saja atau ke Payakumbuh, Harau, sekalian singgah di Batusangkar, Pagaruyung. Sesudah ‘tu cobalah ke Solok banyak pula nan bisa diliat di situ, danau bertingkat-tingkat ada di situ ‘tu. Aa… meliat batu Malin Kundang terakhir saja nanti, kalau ‘lah nak balik.”

Suaranya keras seolah-olah pengunjung yang lain tak ada di sini.

“Bapak ini Padangnya di mana, pak? Bukittinggi, ya.”

“Bukan, dik.”

“Payakumbuh, Solok, Padang Panjang, Batusangkar?”

Saya coba menerka dari cerita-ceritanya.

“Bukan, saya ‘ni dari pesisir. Tapi bos saya Orang Darek, dari Agam.”

O…, Orang Pesisir, sanak Rizal rupanya!

Cerita punya cerita, goyang punya goyang, Pak Yunus ini ternyata bawahan Bupati di kabupatennya Rizal. Beliau bercerita, saat ini sedang menemani Pak Bupati ke Bandung yang dalam perjalanan dinas, dan sekaligus Pak Bupati juga mengunjungi anaknya yang sekolah di sini (atau mungkin sebaliknya?). Ternyata anak Pak Bupati ini kuliah di ITB juga! O…ow, cerita makin menarik bagi saya. Bupati yang pernah me”matah”kan hati Rizal itu saat ini sedang di sini, di Bandung. Dan…putranya kuliah di ITB juga ? Kenapa Rizal tak pernah cerita? Atau dia memang tak tahu? Tak mungkinlah tak tahu. Atau mungkin memang mereka tak berkawan baik? Kalaupun tak berkawan baik masa dia tak pernah bercerita tentang ketakbaikan itu. Entahlah.
Sayang Pak Yunus ini tak tahu pula siapa nama lengkap putra Pak Bupati ini, yang beliau tahu nama panggilan di rumah: Idep. Beliau juga tak tahu jurusannya apa. Malah ketika saya tanya Idep itu angkatan berapa beliau dengan cukup keras berkata kalau si Idep sekolah di ITB bukan “angkatan”.

Cerita-cerita beliau berikutnya tak begitu menarik lagi bagi saya untuk ditanggapi. Sementara beliau memang terus bercerita. Beliau bercerita kalau kakak Idep yang tak lulus-lulus Sipenmaru ternyata hebat juga, karena diterima di Universitas apa begitu di Amerika. Beliau bercerita juga kalau di kampungnya ombak berbuai-buai sepanjang pantai, kalau kelapa berbaris-baris sepanjang pesisir, kalau nelayannya gagah berani mengacak-acak Samudera Hindia. Beliau bercerita pula kalau bukit di kampungnya “terpilih” untuk diambil batunya guna memperbaiki dermaga Teluk Bayur. Dengan bangga tapi sedih beliau bercerita bagaimana dinamit berdentum-dentum memecah-remuk bukit di tepi laut itu, bagaimana kapal tongkang besar merapat di pantai sana dan berlayar jauh membawa sejuta ribu kehidupan seribu juta cerita dari kaki hingga ke pucuk bukit. Beliau juga bercerita kalau sesudah tahun 2000 nanti bupati di daerahnya akan dipilih dari putra daerah, tidak lagi dari Padang atau dari darek.

“Permisi, Pak Yunus.”

Saya terus terang saja sudah tak sabar hendak bertemu Rizal, menyampaikan atau mungkin menanyakan berita besar ini. Rasa penat dan kantuk semalaman berjaga di rumah seorang kawan -- gara-gara harus membereskan laporan praktikum – saya simpan sementara. Saya biarkan kembalian yang dua ratus lima puluh rupiah, tak saya pedulikan cewek-cewek LPK sekretaris yang baru saja bubar dari Jalan Dipati Ukur, tak hirau saya akan sorak sorai bobotoh Persib yang baru saja menggulung Pelita Jaya. Tak pula ambil pusing saya dengan tahi-tahi yang berlarian di got-got sepanjang gang Cisitu, bocah-bocah yang main bola di gang sesempit ini, ibu-ibu yang nyengir menyapa: ti mana ‘den? Rizal harus segera tahu!

Di depan tempat kos, di bawah jemuran, anak-anak – Mas Otok, Aan, Widi, Buang, Ali, dan Soleh – sedang berkumpul, jongkok dan berdiri. Tapi semuanya hampir serentak berdiri, Aan terjengkang saking buru-burunya, dan berebutan berteriak ketika saya muncul dari tikungan gang,

“Rizal pindah!”

Rizal pindah? Haa…?! Kapan? Kemana? O, ya?! Kenapa? Haa…?! Kok Bisa? Serius? Haaa…? ! Saya tidak percaya! Tidak mungkin! Tapi masa sih? Gila! Jadi kita ditipu selama ini! Ay…yayayay…

Sulit saya percaya, seperti sulitnya saya mempercayai kalau seseorang memberi tahu bahwa ternyata bumi ini memang datar, tidaklah bulat seperti yang digembar-gemborkan para ilmuwan sejak zaman Colombus. Sulit.
Anak-anak masih berebutan bercerita dan berkomentar mengenai kepindahan Rizal serta cerita-cerita yang tak pernah saya – dan juga mereka – tahu sebelumnya. Tapi, sungguh mati, saya masih sulit untuk percaya. Sulit.

Bagaimana saya harus percaya kalau ternyata tidak pernah ada orang-orang yang menyumbangkan buku-bukunya, bahwa ternyata buku-buku dan majalah-majalah itu dibeli sendiri semuanya oleh Rizal – kecuali yang saya sumbangkan tiga puluh lima ribu itu barangkali. Bagaimanakah caranya saya harus percaya kalau ternyata bea siswa Supersemar yang diterimanya selama ini selalu disumbangkan lagi ke DKM. Coba, bagaimana untuk mempercayainya kalau ternyata honor mengajar privatnya selalu diberikan lagi ke kawan-kawan di Sekeloa yang mengelola perpustakaan anak-anak.

“Terus, barang-barangnya langsung aja diangketin rame-rame ama mereka.”

“Bapaknya marah-marah dan membentak-bentak terus. Katanya dia membesarkan anak harimau!”

“Poster-poster cewek bugilnya ketinggalan, langsung saja ku saya diambil. Lumayan, euy!”

”Edan pokok é, ‘cak!”

Saya tidak tahu apakah saya sekarang sedang bermimpi. Atau saya baru saja bangun dari tidur panjang, seolah-olah semua yang terjadi selama ini adalah mimpi. Bagaimana tidak seperti sedang bermimpi kalau ternyata Rizal itu Orang Darek, bukan Orang Pesisir! Bagaimana tidak seperti baru terbangun dari mimpi kalau ternyata Rizal itu bukan anak Jamalus, penjaga sekolah yang begitu optimis tidak akan diangkat jadi pegawai negeri, melainkan putra Kolonel Bahar Syamsudin, bupati yang me”matah”kan hatinya itu! Kalau ternyata Rizal itu Idep! Kalau Idep itu Rizal! : Defrizal Bahar!

******

SEJAK saat itu saya hampir tak pernah bertemu Rizal lagi. Sekali dua pernah berpapasan di kampus tapi ia sepertinya menghindar terus. Tampangnya kusut, kusam, dan muram. Saya tahu dia tak mau bertemu saya lagi, jadi saya tahu diri dan menenggang untuk pura-pura tak melihatnya. Kabarnya bapaknya sekarang selalu mengawasi dia secara ketat dan membatasi pergaulannya. Saya juga segan untuk mendatangi tempat kos barunya di daerah Cipaganti. Lama kemudian ia malah tak pernah saya lihat lagi sama sekali. Anak-anak Elektro bilang memang dia hampir tak pernah kuliah. Tak tahulah nilainya bagaimana, dulu-dulu saja IP-nya, sepengetahuan saya, tak pernah lebih dari 2,5.

Terakhir saya melihat Rizal malam-malam sewaktu saya lagi tidur lelap. Nampak di kejauhan dia beserta keluarganya sedang bersantai di Dago Tea House. Tapi saya yakin Rizal tidak santai, wajahnya kuyu-pucat, sinar matanya layu-berat, tubuhnya kelihatan lebih kurus. Ia duduk agak menyendiri di sebelah ujung meja. Di ujung lain ada laki-laki limapuluhan, gemuk, berbaju safari, kulit mukanya tebal dan berminyak, kumisnya lebat. Itukah bapaknya? Entahlah.

Sekonyong-konyong, saya lihat Rizal seperti tikus sakit – ringkih, tergeletak bergelung – yang tengah berhadapan dengan kucing liar. Saya harus menyelamatkan dia! Rizal kawanku! Saya berlari sekuat tenaga ke atas Bukit Dago itu, ke arah mereka, kupanggil Rizal sekeras-kerasnya. Rizal kaget, dia berdiri dan seperti ragu-ragu bertindak melihat saya berlari menuju dia. Bapak tadi berdiri dan menunjuk tajam ke arah Rizal dan kemudian ke arah saya. Saya terus berlari berteriak memanggil namanya. Tiba-tiba Rizal lari menjauhiku, lari melompati kursi-kursi dan meja-meja. Aduh mak! Ia terpeleset dan terguling-guling tak terkendali ke arah sungai kecil berbatu-batu di bawah sana. Pastilah kepalanya terhempas ke batu-batu itu dan pecah! Lalu otaknya terhambur, darahnya muncrat! Sungai kecil itu akan mengalir merah…
Ada yang tak sempat saya sampaikan padanya, bahwa ternyata perjuangannya jauh lebih keras dari yang saya bayangkan selama ini, ternyata perjuangan seorang anak bupati bisa jauh lebih berat dari perjuangan seorang anak penjaga sekolah. Dua puluh April 1996 waktu itu.

******

Saya menganggap dia sudah benar-benar mati kalau tadi siang tidak saya lihat dia berteriak-teriak di depan Gedung Sate, kalau tidak saya lihat dia bersorak-sorai di Bulak Sumur, kalau tidak saya lihat dia mengacung-acungkan tinjunya di Air Tawar di Padang sana. Sungguh saya pikir dia sudah mati kalau tadi siang tidak saya lihat dia berlari-lari dekat jembatan layang Grogol, di Jakarta sini, kalau tidak saya lihat dia berpidato berapi-api di Salemba, kalau tidak saya lihat dia bernyanyi-nyanyi sambil melambaikan jaket mahasiswa abu-abunya dari atas kap bus Mayasari Bakti yang melaju di jalan tol. Saya anggap dia memang sudah mati kalau tadi siang tidak saya lihat dia berdiri di atap Gedung DPR. Tegap dia tegak di atas sana, kakinya terpancang kokoh, tangan kanannya terkepal menantang matahari di ubun-ubun, tangan kirinya mengacungkan bendera, rambutnya berkibar bersama sang merah putih, lantang suaranya berteriak, “AKU TAK AKAN TURUN SEBELUM KAU TURUN !”


catatan :
>> ongok (Minangkabau) : dungu
>> ku (Sunda) : oleh
>> ti mana‘ den ?(Sunda ) : dari mana ‘nak ?



< Back >