Hasni's Story Galery


Sumarni
Cerpen Firman Venayaksa


Ayam jantan sayup-sayup berkokok, menyapa mentari yang baru bangun dari peraduannya. Butiran embun masih terlihat malas untuk segera meninggalkan daun di ranting pohon dan pada kembang ilalang. Tanah terlihat merah basah, merahasiakan jatuhnya air hujan tadi malam. Pagi itu, Sumarni gadis yang baru menginjak umur tujuh tahun terbangun mendengar suara gaduh dari kakak-kakaknya. Dia mendengar dengan jelas bahwa suara gaduh tadi adalah suara kaleng yang dipukul.
“Creng creng creng”,suara kalung itu sungguh menyayat telinga.
“Ayo bangun gadis kecil, ini hari pertama sekolahmu jadi jangan sampai terlambat.”
Kakak pertamanya mengatakan dengan suara lantang.. Sumarnipun terbangun, dia lupa bahwa hari ini merupakan hari pertama sekolahnya.
“Sekolah, ya sekarang aku akan sekolah. Di sekolah nanti aku pasti punya banyak teman. Oh, sekarang aku harus segera mandi dan mengganti pakaian lusuh ini dengan seragam sekolah tentunya, alangkah senang hatiku. Mulai sekarang aku tidak akan di ejek lagi oleh Si Tina, musuh yang paling aku benci itu. Tapi apakah kakak sudah membelikan seragam sekolahku belum, ya? Ah pasti sudah. Mungkin mereka akan membuat kejutan untukku hi...hi...hi... Aku yakin pasti mereka telah membelikan segala keperluan sekolahku. Kakak pertama belikan buku-buku dan alat tulis, Kakak kedua membelikan alat sekolah, Kakak ketiga membelikan sepatu dan Kakak keempat pasti membelikan aku sebuah tas. Wah sudah siang, aku harus cepat-cepat mandi takut kesiangan.”
Dengan perasaan gembira, Sumarni cepet-cepat menanggalkan bajunya, dia bernyanyi layaknya anak-anak yang lain.
“Ayo sekolah....Ayo sekolah”
Nyanyian itulah yang selalu didendangkannya. Dia tahu lagu itu dari kakak-kakaknya ketika mau berangkat sekolah, mereka selalu menyanyikannya. Setelah tak ada sehelaipun baju menempel di tubuhnya, Sumarni bergegas untuk pergi mandi.Tapi sebelum keinginannya terlaksana, kakaknya yang paling tua menghadangnya.
“Sumarni, kalau mau sekolah dengan kakak, tidak perlu mandi. Bau tak sedap ini harus terus menempel di tubuh kita, agar ibu guru memberi nilai yang besar.”
Dedeh merasa terheran-heran Bukankah Tina musuhnya itu selalu mandi kalau mau sekolah? Tapi karena keinginannya yang sangat besar untuk sekolah, dia tak akan menggubris tandatanya besar yang secara tiba-tiba hinggap di benaknya.
“Ya tidak apa-apa tidak mandi juga. Bukankah Sumarni masih terlihat cantik kan Kak?”Kakaknya mengangguk tanda setuju. Sambil mengambil sisir dia merapihkan rambutnya yang sedikit kemerah-merahan seperti bulu jagung, karena dalam hidupnya dia tak pernah berkenalan dengan sampo, sabun, apalagi yang namanya odol. Yang dia tahu bahwa mandi adalah mengguyurkan dua atau tiga gayung ke tubuhnya. Tiba-tiba dari arah belakang kakaknya yang kedua mengambil sisirnya dengan paksa.
“Kak , kok sisirnya diambil sih. Kembalikan dong sisirnya.”
Sumarni terlihat begitu mememelas. Dengan penuh perhatian dan rasa kasih sayang yang teramat dalam, terpancar dalam matanya yang berbinar, Ujang berujar.
“Sumarni kan mau ikut sekolah dengan kakak.”
Sumarni mengangguk lemas.
“Nah kalau mau sekolah harus menuruti apa kata-kata Kakak. Memang peraturan sekolah ya seperti itu,.”Sumarni kembali terheran-heran.
“Sekolahnya sampai siang, Kak?”
“Kalau mau sampai malampun bisa.”
Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara kakaknya yang ketiga.
“Hei, sekarang sudah siang, ayo cepet nanti tempat diduduki orang lain. Dan Ani, tolong cepat dandani Sumarni dan berikan seragamnya di belakang.”
Ani cepat-cepat membawa Sumarni untuk segera didandani dan diberikan seragam.
“Kesini Sumarni, cepat pakai seragam ini.”
Sumarni terheran-heran untuk yang kesekian kalinya. Baju seragam yang dikhayalkan Sumarni ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Sumarni menatap lama baju yang disebut kakaknya sebagai seragam sekolah. Dekil bau dan penuh dengan bolong-bolong besar. Tapi karena ingin sekolah, Sumarni cepet-cepat memakainya.
“Nah selesai, ayo kita keluar.”
Sumarnipun keluar, diikuti oleh Ani yang terlihat senyum simpul melihat adiknya. Ternyata kakak-kakaknyapun seperti dia, bahkan terlihat lebih menyankitkan. Perban dan warna-warna merah melekat di tubuh mereka.
“Ayo kita belajar dan jangan samapai mengecewakan orangtua kita.”
Didin berkata dengan tegas, seolah memeberikan spirit kepada adik-adiknya.
“Memangnya orangtua kita sekolah dimana Kak ?”Dedeh bertanya dengan kepolosannya.
“Di sekolah yang sama. Andaikan orangtua kita masih ada”
“Memangnya Bapak dan Ibu kita dimana?”
“Mereka sudah ada di surga.”
“Memangnya surga itu apa sih?”
“Belajar adalah jalan menuju surga. Sudahlah ayo kita berangkat, matahari sudah semakin tinggi.”
Mereka bergegas pergi meninggalkan rumahnya (kalaupun itu disebut suatu rumah). Dan ditengah perjalanan mereka menyanyi bersama, dengan riang dan penuh suka cita.
“Ayo sekolah.”



< Back >